Minggu, 31 Agustus 2008


Rumoh Aceh merupakan rumah tradisional Aceh yang menjadi bangunan induk Museum Negeri di kota Banda Aceh. Dibuat pada tahun 1914 untuk Gelanggang Pameran di Semarang, Jawa Tengah. Kemudian dibawa pulang ke Banda Aceh tahun 1915 oleh Gubernur Van Swart (Belanda) yang kemudian dijadikan museum hingga kini. Bangunan ini berupa sebuah rumah panggung yang berpintu sempit namun didalamnya seluruh ruangan tersebut tidak bersekat.
Dengan tampilan luar hitam pekat diseling ornamen berwarna cerah khas Aceh, bangunan ini menyimpan beberapa koleksi keramik dan lukisan pahlawan Aceh. Saat memasukinya akan terasa suasana tradisi yang kental. Bagaimana tata ruang rumah tradisional Aceh sangat terasa. Mulai dari penataan ruang pertemuan, ruang tidur, dapur dan penyimpanan perabot sehari-hari. Tentu saja hal ini akan sulit dijumpai kini.
Namun selepas bencana Tsunami dua tahun silam, banyak yang mengadopsi gaya rumah panggung ini. Mungkin ada yang terpikir kalau Tsunami melanda lagi akan jauh lebih aman dengan tipe bangunan seperti ini. Tentu harus dipertimbangkan pondasi yang lebih kokoh, tak lagi dari sebatang kayu. Bagaimanapun kearifan masa lalu selalu menawarkan sebuah medium perenungan. Untuk selalu bercermin diri dan terus belajar bertegur sapa akrab dengan alam.

Masjid Raya Baiturrahman, sebuah masjid yang berada di pusat kota Banda Aceh. Masjid ini dahulunya merupakan masjid Kerajaan Aceh.

Masjid Raya Baiturrahman pertama kali dibangun Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612 Masehi dan dinyatakan sebagai masjid negara sekaligus diberi nama Baiturrahman. Bait artinya rumah dan Rahman artinya sifat pemurah Allah. Luas seluruh pertapakan Masjid Raya Baiturrahman 3,30 hektar dengan lima pintu gerbang. Dalam masjid bisa menampung 10.000-13.000 jemaah.
Sewaktu Belanda menyerang kota Banda Aceh pada tahun 1873, masjid ini dibakar, kemudian pada tahun 1875 Belanda membangun kembali sebuah masjid sebagai penggantinya.
Mesjid ini berkubah tunggal dan dapat diselesaikan pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959-1968).
Masjid ini merupakan salah satu masjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis, ukiran yang menarik, halaman yang luas dan terasa sangat sejuk apabila berada di dalam ruangan masjid tersebut.

Gunongan merupakan sebuah bangunan peninggalan Sultan Iskandar Muda untuk permaisurinya, Putri Phang. Menurut sejarah, Putri Phang selalu merasa rindu akan kampung halamannya, Pahang-Malaysia. Sultan kemudian mengetahui bahwa kegusaran permaisurinya itu karena di Pahang istananya dikelilingi oleh perbukitan dimana permaisuri dapat bermain, namun disini tidak.
Lalu Sultan membangun sebuah gunung buatan yaitu Gunongan dimana permaisuri dapat memanjatinya. Begitu bangunan ini siap, permaisuri menjadi berbahagia dan lebih banyak menghabiskan waktunya disini terutama pada saat matahari akan tenggelam. Gunongan terletak dalam sebuah komplek di jalan Teuku Umar, Banda Aceh, dimana daerah tersebut luput dari keganasan tsunami.

Moh. Hatta adalah wakil presiden Indonesia yang pertama.


Isi Teks Proklamasi yang dibacakan oleh Bung Karno.

Jumat, 29 Agustus 2008



Presiden Indonesia, Ir. Soekarno saat membacakan Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, di jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.



"Bendera Merah-Putih" sebagai bendera Republik Indonesia.